Rabu, 18 Januari 2017

Aku Hanya Mampu Mencintai Sebatas Itu

Aku hanya mampu memandangmu dari kejauhan, setiap inci bayangan diri mu terpatri dalam memori pikirku. Kau mungkin tak terjangkau pandanganku, tapi tak pernah jauh dari mata hatiku.

Kau tahu, aku suka hujan, tetesannya di kaca jendela, dingin berembun, dengannya aku bisa melukis senyum dan namamu. Pernah kau coba hitung rintikan hujan? Saat hujan deras, tetesan itu tak berhingga jumlahnya.

Ah, bukan, aku bukan ingin sombong mengaku bahwa sebanyak itu cintaku padamu. Cintaku padamu hanya seujung kuku, yang akan terus tumbuh meski
telah dipotong berkali-kali.

Cintaku hanya satu detik, yang kurasa terus berkembang di setiap detik selanjutnya. Cintaku hanya setetes hujan, yang menyejukkan kegersangan taman hati. Cintaku hanya setitik cahaya, yang berpendar hidupkan lentera kita. Aku tak sanggup menjanjikan selamanya, aku hanya sanggup menjanjikan satu kalimat, 'aku mencintaimu hari ini'.

Lalu, bagaimana dengan esok, lusa, seminggu, sebulan, setahun, sewindu, seabad? Aku tak berjanji tentang rentang waktu, tetapi yang kumengerti, setiap harinya selalu ada cinta untukmu. Setiap harinya cintaku tak berkurang satu centi pun, justru kurasakan semakin bertambah.

Aku tak berani mencintaimu semegah langit atau pun seluas bumi, aku hanya mampu mencintaimu sedalam kepingan hati.

Hati? Iya, bongkahan kecil dalam ragaku, hanya sekeping, tempat bernaung cintaku untukmu. Hanya sesederhana itu aku mencintaimu, tanpa hitungan dan tanpa berpikir untuk terhenti. Biar terus berkembang atau bahkan menyusut ditelan sang waktu.

Aku hanya mampu mencintai sebatas itu, tak lebih, tak juga kurang.

Minggu, 15 Januari 2017

Untukmu

Aku menulis lagi. Tulisanku ini masih tentangmu. Hanya saja kali ini aku harap kau membacanya. Karena tulisan ini memang untukmu. Untukmu yang sempat ingin kuperjuangkan.

Perihal rasa memang sulit untuk dijelaskan. Bahkan lebih rumit dari soal ujian lisan metalografi semester kemarin. Tapi aku tetap menulis ini. Karena aku ingin kau paham, kalau di sini masih ada yang memendam rasa padamu. Membiarkan perasaannya terkubur tidak terlalu dalam, hingga tampak seperti gundukan tanah yang menyembunyikan sesuatu.

Bukan aku tak mau menggali gundukan itu lalu menunjukan isinya padamu. Aku hanya merasa kalau aku bukan orang yang pandai dalam hal itu. Aku tak pandai dalam mengungkap rasa. Iya, aku memang bukan orang yang pandai.

Kalau kau membaca tulisan ini lalu merasa ini semua tentangmu, bungkam saja lah. Biarkan ini tetap jadi urusanku sendiri. Akan rumit jika banyak orang yang tau tanpa paham apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Dan untukmu, aku ingin berterimakasih. Terimakasih telah hadir. Menjadi warna, membawa nada, memupuk rasa walau hanya sementara. Terimakasih banyak.

P.S : tulisan ini pas jika diiringi lagu Jose Mari Chan yang judulnya Can't We Start Over Again. Carilah di Youtube.
��