Rabu, 30 November 2016

Aku Tersenyum Melihatnya

Untuk seorang perempuan Ia sangat menyukai kopi. Ia bisa menghabiskan secangkir, mungkin lebih dari dua, dalam satu hari.

Ia juga makan banyak sekali. Ia tak malu - malu menunjukkan hal itu di hadapanku.

Ia suka bercerita. Tak ada satupun yang lolos dari celotehnya kala bersamaku.

Ia membenci rahasia. Sepahit apapun; katanya, aku dan kamu harus saling terbuka.

Ia mudah sekali panik. Jika sudah begitu, Ia akan berbicara dengan cepat; penuh kekhawatiran.

Ia juga sangatlah ceroboh. Hal - hal yang sudah direncanakan bisa begitu saja terlewat olehnya.

Bila sedang tersipu, Ia akan menutup wajahnya dengan kedua tangan sembari bersembunyi di balik punggungku; menunggu aku menyelesaikan tawa.

Ia sangat suka menanyakan pendapatku tentang banyak hal. Paling sering tentang mimpi - mimpi kami. Iya, dia manusia pemimpi. Disampingku, Ia berani membicarakan mimpi tinggi - tinggi tanpa takut terjatuh ke bumi.

Ia perempuan yang begitu perasa; mudah sekali tersentuh hatinya.
Hal sekecil apapun bisa membuatnya terharu, dan menitikkan airmata selama beberapa waktu.

Ia menyukai petualangan. Mendatangi tempat - tempat asing; Ia tak takut tersesat. Karena katanya, akan selalu ada aku menemani dan menjaganya. Ia juga mencintai debur ombak dan harum bebukitan. Bila memungkinkan,
seluruh surga dunia pasti telah kami kunjungi bersama.

Ia sering mengingatku di setiap perjalanan panjangnya, selalu ada yang Ia sisipkan di celah sudut ruangku, agar kau selalu ingat padaku, dan aku selalu membalasnya dengan tersenyum.

Mengertikah Ia? Binar di matanya yang tak henti berkejap kala menatapku manja; pernah membuat aku begitu jatuh hati. Aku mengagumi kuatnya dalam bertahan meski hatinya patah tak karuan.

Namun sayangnya, pada hampir sebagian besar mimpinya; aku tak memiliki kemampuan untuk mewujudkan.

Aku tahu banyak janjiku yang tak bisa aku tepati untuknya.

Aku mengingatnya.

Forgive and Forgeting bisiknya.

Selasa, 22 November 2016

Surat Cinta Yang tak Pernah Sampai.



Puan…

Bagaimana memulai awalan surat untukmu ini ya? Aku merasa canggung kali ini menyapamu.

Apakah kau sehat?
Ah.. tidak.. tidak..

Apakah kau masih sering tidak sarapan?
Ehmm.. bukan seperti ini..

Bagaimana harimu?
Aaahh… membosankan...

Kau sibuk apa belakangan ini?
Huh.. ini klise

Hai.. berapa cangkir kau habiskan kopi dalam sehari?
Aaarrggh… adakah yg lebih baik dari kalimat ini

Begini saja..
Kau merindukan aku?

Nampaknya bagus… ini saja.

Surat ini kucium lembut dengan harapan kau akan melakukan hal yang sama saat membuka suratku.

Kemudian kulipat rapi2, kusisipkan di buku kerjaku, sampai hari ini…


Tak terkirim sampai usang.

Maaf

maaf, maaf jika aku seringkali menulis banyak hal dengan begitu jujurnya, karena bagiku menulis seperti berdialog panjang lebar tanpa menganggumu.

maaf, maaf jika waktu membawaku, seringkali tentangmu menginspirasiku menulis banyak hal, tapi aku benar-benar tak ingin mengganggumu, tak ingin mengusik apapun dari dirimu, termasuk hatimu.
maaf, jika menulis adalah duniaku, dan terkadang kamu menjadi bagian dari rangkaian kata-kataku, namun aku benar-benar tak sedikitpun bermaksud membuatmu kesal, marah atau apapun namanya.
aku minta maaf, memang beberapa kejujuran itu dapat dengan terang benderang terbaca olehmu, namun maaf, aku tak bermaksud membuatmu marah.
aku minta maaf..

maafkan aku, jika aku jatuh pada kesederhanaanmu, maafkan jika banyak kata-kata yang berguguran dari pepohonan mimpi masa depan, darimu aku belajar untuk tak seharusnya kita pastikan karena semua pasti sudah Allah tuliskan bahkan sebelum kita dilahirkan.
darimu aku belajar, perjuangan itu bukan hanya tentang mendapatkan apa yang kita inginkan, namun perjuangan juga tentang mengembalikan pada Allah harapan-harapan yang belum waktunya berumah dihati kita, meletakkan rasa dibagian paling sederhana, tentang rindu-rindu yang memburu untuk kita padamkan nyalanya.

aku belajar darimu, tentang menyimpan banyak hal didalam doa, karena kita terhijab dari masa depan maka doa adalah samudera yang akan jadi muara segala tanya.
aku belajar darimu, bahwa kita tak perlu ragu dengan diam beribu detik waktu, karena kita tidak pernah tahu, bagaimana permintaannya pada Allah bukan? mungkin saja dia menyebut namamu lebih dari satu kali didalam doanya.

maafkan aku, mungkin menurutmu ini berlebihan, karena memang beginilah aku, ada beberapa tulisan yang begitu jujur kutuliskan, namun jangan khawatir juga ada tulisan yang terinspirasi dari banyak hal, jadi mohon jangan menafsirkan semua isi hatiku

bagiku, tulisan itu bahasa kesepian yang mengubahnya jadi riuh dan ramai, setidaknya ramai dihati dan pikiranku, mungkin juga ada kalanya, semacam menumpahkan rindu tanpa memberi tahu dan tanpa menganggu.

Minggu, 20 November 2016

Soekarno: Disayang Gereja Dicintai Muslim


Bulan Mei, Vatikan sedang disiram sengatan matahari terik sepanjang hari di musim panas tahun 1959. Cuaca cukup menyengat untuk ukuran kota Vatikan yang mungil itu.

Suatu pagi pada Kamis Wage, 14 Mei 1959, Vatikan kedatangan seorang tamu dari jauh.
Dia datang disambut dengan upacara megah oleh para prajurit berseragam kebesaran ala Eropa abad pertengahan. Bahkan beberapa prajurit senior berpakaian besi seperti serdadu Romawi, karena ini menyambut sebuah kunjungan resmi seorang presiden negara besar ke negara terkecil di dunia.

Bagai seorang pangeran dari “somewhere from the East” dengan gaya berpakaian khas berpeci hitam yang menjadi cirinya. Dia datang dengan rombongan besar. Mereka tiba dengan 9 mobil yang mengantar mereka untuk beraudiensi dengan Paus Johannes XXIII, pemimpin spiritual umat Katolik sejagat.

Tepat pukul 07.50, sang tamu dengan berpakaian jas lengkap putih-putih, datang sambil mengempit tongkat kesayangannya di lengan atas tangan kiri. Di lehernya tergantung medali ukiran beruntai kuning emas. Dia tampak seperti sudah biasa datang Ruang Clementine atau Clement VIII Pax V, sebuah ruangan kecil dalam kompleks negara seluas lapangan golf itu, tempat pemimpin Gereja Katolik itu menerima tamu-tamu resminya. Ini kunjungannya kedua ke tempat pusat rohani umat Katolik sebumi setelah 3 tahun.
Tamu itu seorang pemimpin negara berpenduduk umat Islam terbesar sejagat, menghadap kepada pemimpin umat Katolik -- juga sejagat. Presiden Soekarno bertamu kepada Paus Johannes XXIII. Sang pemimpin umat Katolik yang bernama Kardinal Angelo Giuseppe Roncalli itu, senang mendapat tamu jauh dari sebuah negeri berpenduduk mayoritas muslim, meski ia belum setahun menduduki Tahta Suci di Vatikan. Ia memberi penghargaan tinggi kepada tamunya dan juga anggota rombongannya, berupa kotak kecil yang diterimakan secara bergiliran satu per satu.
Mengapa Soekarno sering berkunjung ke pusat agama Katolik sedunia itu?

Pertemuannya dengan Johannes XXIII adalah yang kedua baginya menemui seorang paus. Sebelumnya, pada Rabu 13 Juni 1956, dalam rangka tur keliling dunia, dia pertama kalinya menginjakkan kaki di Vatikan dan menemui Paus Pius XII. Sri Paus juga bangga didatangi seorang pemimpin sebuah negeri dengan penduduk muslim terbesar dari Asia. Sang tamu pun mendapat pujian serta kehormatan atas kedatangannya itu.

Hanya 10 tahun baru memimpin bangsa baru, Soekarno ingin menunjukkan bahwa takdirnya memimpin bangsa sangat majemuk ia jalankan dengan baik. Dia bukan datang sebagai seorang raja atau pangeran yang memimpin negeri homogen dalam budaya dan agama, seperti raja, sultan atau emir di Timur Tengah, atau pun di Semenanjung Melayu. Ia datang sebagai manusia berkebudayaan Indonesia yang utuh, yang berdiri di atas semua pihak, golongan, agama, budaya dan kepentingan.
“Kami menyambut dengan hangat kedatangan Yang Mulia, dengan mengingatkan kembali kedatangan Yang Mulia menemui pendahulu kami, Paus Pius XII dan Paus Johannes XXIII”, sambutan Paus Paulus VI ketika menerima kedatangan ketiga kalinya Presiden Soekarno ke Vatikan (dan juga menjadi yang terakhir), pada Senin, 12 Oktober 1964.

Soekarno dipuji amat sangat oleh Vatikan, karena menunjukkan sikap kemanusiannya yang tinggi, seperti yang dikatakan Paus Paulus VI ketika menyambutnya. Peristiwa ini tidak pernah terjadi terhadap pemimpin dari negeri muslim mana pun di dunia. Ini yang selalu membanggakan seorang tokoh budayawan, rohaniawan Katolik yang juga arsitek, Romo Mangunwijaya. Ia selalu memuja penghargaan yang diberikan Vatikan kepada Soekarno sebagai pemimpin negeri muslim, pertama dalam 2.000 tahun sejarah Gereja Roma Katolik.

“Aku orang Islam yang hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali yang tertinggi dari Vatikan”, katanya dalam otobiografi yang ditulis Cindy Adams — "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia". Perhargaan ini membuat kagum Presiden Irlandia Eamon de Valera, yang negerinya punya 88% umat Katolik. “Saya hanya punya satu penghargaan”, katanya saat berjumpa dengan Soekarno.

Api bukan Abu
Bagi Soekarno, umat Katolik dan kristiani umumnya, bukan hal yang asing baginya. Jauh sebelum dia menjadi pemimpin, persinggungan dengan orang-orang Katolik sudah terjadi. Ketika dipenjara di Sukamiskin, Bandung, dia banyak membaca tulisan-tulisan van Lith, seorang tokoh Katolik yang meletakkan dasar ajaran Katolik di tanah Jawa. van Lith punya dua murid kesayangan, yang juga menjadi lebih dari sahabat bagi Soekarno, yaitu Mgr. Soegijapranata dan IJ Kasimo.

Ketika dia dibuang ke Ende, Flores, Soekarno banyak memuji cara kerja dan sistem manajemen orang-orang Katolik di pulau itu, yang memang menjadi mayoritas. Ia kadang mengkritik keras cara berpikir orang-orang Islam masa itu, yang terlalu mengurusi asesoris daripada esensi ajaran Islam, yang makin menjauhkan umat Islam dari modernitas. “Ambil apinya dari Islam, bukan abunya”, katanya mengkritik.

Soekarno saat itu menggagumi buku ‘Spirit of Islam’ karya Syed Amir dari London, yang isinya ingin membangunkan umat Islam dari tidur panjang. Dari pembuangan di Ende, Soekarno juga melakukan korespondensi surat-surat Islamnya dengan para tokoh-tokoh Islam di Jawa dan Sumatra dan juga menulis artikel surat kabar seperti "Pandji Islam" dsb.

Pada zaman revolusi kemerdekaan Indonesia (1945—1949), keluarga Soekarno bersahabat baik dengan Soegijapranata, murid van Lith, tokoh yang dikaguminya. Sewaktu Belanda menyerang ibukota negara Jogjakarta, 18 Desember 1948, istrinya Fatmawati yang mempunyai bayi berumur setahun, Megawati, disembunyikan oleh Soegijapranata di rumahnya di tepi barat Kali Code, dari kejaran militer Belanda. Sedangkan Soekarno diibuang ke Berastagi — Tanah Karo, Prapat — Simalungun kemudian Pulau Bangka.

Ketika Soegijapranata wafat, Soekarno menjadikannya pahlawan nasional dan mengirim pesawat khusus untuk menjemput jenazahnya di Belanda. Fatmawati meratapi kepergian paderi Katolik pribumi pertama itu dengan tangisan tiada henti.

Soekarno sangat disayangi oleh Vatikan, beliau juga dinobatkan sebagai pahlawan Islam oleh komunitas muslim dunia. Menerima 26 gelar Dr. (HC), dua di antaranya dari Universitas Al-Azhar di Kairo dan Universitas Istanbul di Turki bidang Filsafat Islam; adalah pengakuan dunia keilmuan atas pemikiran Soekarno. Organisasi internasional, seperti Konferensi Islam Asia Afrika juga memberikan gelar Amirulmukminin. (pemimpin umat Islam). Anehnya, julukan itu bukan untuk raja-raja Islam di Timur Tengah yang sangat kental dengan keislamannya.

Paus Johannes Paulus II mengatakan di depan Soeharto: “Falsafah Pancasila telah menjadi bintang penuntun bagi peradaban tinggi negeri ini yang menyatakan setiap rakyatnya berke-Tuhanan, tetapi berjiwakan persatuan nasional yang menghormati perbedaan atas masyarakat majemuk Indonesia.”
(Ketika Paus Yohanes Paulus berkunjung ke Indonesia, pihak pemerintah dan KWI meminta bintang yang sama utk diberikan kepada Presiden Soeharto, tetapi Paus menolak dan mulai saat itu Vatikan tidak lagi memberikan bintang tahta suci). Soekarno adalah orang non-kristen/katolik pertama sekaligus yang terakhir menerima bintang penghargaan teringgi dari Vatican tersebut.

Jumat, 18 November 2016

Merdeka

Saya tak menyadari ketika jejak kaki telah bertambah, saat ini. Tiba-tiba waktu membawa saya ke ujung desa ini. Kembali ke desa kecil yang indah dengan bukit-bukit  menjulang. Menginjakan kaki di tanahnya, merasakan deru anginya, dan mengingat-ingat lagi rasanya bermain, perih jatuh di sela perkebunan karet.
Dan  subuh-subuh di desa,  saya  mengejar matahari terbit. Melihat buruh kontrak yang pergi beriringan menyadap getah karet.  Merasakan deru angin membeku. Berhenti senyap. Sepeda tua teronggok di pinggir pematang. Sang surya anggun perlahan muncul dari balik bukit. Kaisar tata surya itu, sinarnya hangat bersahabat pagi ini. Tanda hujan lama tak kembali.
Bukit-bukit dengan hutan karet hijau  tua laksana jamrud yang tertanam ribuan tahun  di bumi, pesonanya tersingkap dari selimut kabut embun. Seakan terlepas dari gigil dingin malam, kabut terbang seperti awan asap ke langit. Perlahan ia menghijau terang.
Beberapa gazebo beratap seng, tampak eksotis, diam. Bahkan angin berbisik yang biasa berlalu pun ikut membisu. Tempat ini, bagai surga yang  lengang sejak ditinggalkan Adam dan Hawa ke bumi.
Itu artinya, aku dan anak-anak desa ini bisa bebas bermain lagi. Pagi ini kampung masih sepi.  Di gubug tepi huma, hanya kami yang mengisinya dengan keramaian bermain.  Di bawah langit cerah.
Kadang kami mengejar kupu2, capung.  Yang berlarian  sebangun pagi dan menatap matahari dari balik cangkangnya, diantara pohon. Mengejar bayangan. Daun kering, bijih karet, terhampar. Adalah harta karun kami yang berharga. Hingga hari ini, saya percaya bangsa ini bangsa yang kaya. Negeri di bawah angin ini. Tanahnya lebih luas dari benua eropah, subur akibat sisa gunung api, terbanyak di dunia, hingga dijuluki negeri cincin api. Lautnya,  dari barat ke timur lebih panjang daripada jarak antara London dan Siberia seperti yang pernah diceritakan Multatuli. Saya ingin merasakan pengalaman menjelajahi semuanya.
Di usia yang bertambah ini, saya tak ingin merayakanya. Saya menolak tua.
Di sini di tempat ini, saya merasa berubah menjadi lebih muda. Umur itu berbalik.
Saya ingin menikmati hidup, menyerap kearifan dari anak-anak ini. Begitu sederhana. Tak tahu, tiba-tiba saja kami, saya dan anak-anak kecil ini, sudah menjadi akrab. Seakan kawan yang telah mengenal lama. Tak perlu perkenalan, saya hanya bercerita tentang kota, mereka mengajari saya bermain dengan apa yang ada di alam, daun menjadi uang, pelepah menjadi pedang.
Dan kami bermain sepanjang waktu. Bebas.  Melepaskan beban pikiran, dan segala tentang hidup. Jauh dari hingar bingar, macet, sesaknya kehidupan kota. Menjadi minoritas diantara minoritas. Dan bahagia.
Maka bisa kuceritakan kepadamu, seperti apa rasanya merdeka? Yakni, menjadi anak-anak kembali!

Rabu, 16 November 2016

Write About You

I write about you just to tell you that you are more than beautiful for me.

I write about you just to keep you in my mind, in my life. Maybe that’s the only thing I could do to keep you around me.

I write about you just to keep me awake and to disenchant me that you are just a dream. And it’s too good to be true.

Writing about you is the only thing that keep me away from insanity. At least, I stay at the ‘delusionally unwell’ level.

I make beautiful writings I could ever done about you just to remind me you’re the best thing ever happened to my life.

Writing about you is just about reading all the memories with you, and whispering all my hopes to you.

I write about us because I’m afraid that you will erase all the memories. And I’m too afraid there will be no “us” at all.

Unfortunately, you never understood. Or I haven’t been good enough to make you understand.