Saya tak menyadari ketika jejak kaki telah bertambah, saat ini. Tiba-tiba waktu membawa saya ke ujung desa ini. Kembali ke desa kecil yang indah dengan bukit-bukit menjulang. Menginjakan kaki di tanahnya, merasakan deru anginya, dan mengingat-ingat lagi rasanya bermain, perih jatuh di sela perkebunan karet.
Dan subuh-subuh di desa, saya mengejar matahari terbit. Melihat buruh kontrak yang pergi beriringan menyadap getah karet. Merasakan deru angin membeku. Berhenti senyap. Sepeda tua teronggok di pinggir pematang. Sang surya anggun perlahan muncul dari balik bukit. Kaisar tata surya itu, sinarnya hangat bersahabat pagi ini. Tanda hujan lama tak kembali.
Bukit-bukit dengan hutan karet hijau tua laksana jamrud yang tertanam ribuan tahun di bumi, pesonanya tersingkap dari selimut kabut embun. Seakan terlepas dari gigil dingin malam, kabut terbang seperti awan asap ke langit. Perlahan ia menghijau terang.
Beberapa gazebo beratap seng, tampak eksotis, diam. Bahkan angin berbisik yang biasa berlalu pun ikut membisu. Tempat ini, bagai surga yang lengang sejak ditinggalkan Adam dan Hawa ke bumi.
Itu artinya, aku dan anak-anak desa ini bisa bebas bermain lagi. Pagi ini kampung masih sepi. Di gubug tepi huma, hanya kami yang mengisinya dengan keramaian bermain. Di bawah langit cerah.
Kadang kami mengejar kupu2, capung. Yang berlarian sebangun pagi dan menatap matahari dari balik cangkangnya, diantara pohon. Mengejar bayangan. Daun kering, bijih karet, terhampar. Adalah harta karun kami yang berharga. Hingga hari ini, saya percaya bangsa ini bangsa yang kaya. Negeri di bawah angin ini. Tanahnya lebih luas dari benua eropah, subur akibat sisa gunung api, terbanyak di dunia, hingga dijuluki negeri cincin api. Lautnya, dari barat ke timur lebih panjang daripada jarak antara London dan Siberia seperti yang pernah diceritakan Multatuli. Saya ingin merasakan pengalaman menjelajahi semuanya.
Di usia yang bertambah ini, saya tak ingin merayakanya. Saya menolak tua.
Di sini di tempat ini, saya merasa berubah menjadi lebih muda. Umur itu berbalik.
Saya ingin menikmati hidup, menyerap kearifan dari anak-anak ini. Begitu sederhana. Tak tahu, tiba-tiba saja kami, saya dan anak-anak kecil ini, sudah menjadi akrab. Seakan kawan yang telah mengenal lama. Tak perlu perkenalan, saya hanya bercerita tentang kota, mereka mengajari saya bermain dengan apa yang ada di alam, daun menjadi uang, pelepah menjadi pedang.
Dan kami bermain sepanjang waktu. Bebas. Melepaskan beban pikiran, dan segala tentang hidup. Jauh dari hingar bingar, macet, sesaknya kehidupan kota. Menjadi minoritas diantara minoritas. Dan bahagia.
Maka bisa kuceritakan kepadamu, seperti apa rasanya merdeka? Yakni, menjadi anak-anak kembali!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar