Kamis, 04 Mei 2017

Khilafah


Ini dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam diskusi. Jadi banyak yang nanya khilafah itu apa. Ada yang nanya memang karena awam (non muslim) ada juga yang cuma ngetes. Karena pembaca status ini umum, bukan cuma muslim saja (itupun aliranya juga macem-macem) saya bikinkan ringkasan definisi khilafah menurut yang saya pahami dari berbagai bacaan:

Secara bahasa khalifah artinya "penerus". Sedangkan dalam Al Quran, khalifah memiliki makna antara lain "penguasa" atau yang lebih substansif yakni "pengelola", misalnya pada istilah " khalifatullah fil ardh"...khalifah Allah di muka bumi...artinya pengelola kekuasaan Tuhan di bumi. (QS al-Baqarah: 30, al-An'am: 165). Itu latar kebahasaannya. Ada pembahasan yang lebih dalam soal itu.
Definisi paling umum: Khilafah adalah sistem pemerintahan yang dijalankan pada era kenabian Muhammad hingga masa 4 sahabat. Ini adalah yang khilafah versi awal atau original. Akan tetapi Sunni dan Syiah punya perbedaan pandangan soal siapa yang berhak jadi khalifah. Perbedaan inilah yang menjadi awal banyak persengketaan politik di kemudian hari.

Menurut Sunni, negara bersistem khilafah dipimpin oleh seorang khalifah yang diangkat lewat "baiat" yakni ikrar kesetiaan atau dukungan. Penentunya adalah "shura" alias musyawarah umat. Dengan demikian konsep khilafah versi Sunni secara konseptual sebagian adalah salah satu bentuk demokrasi.
Sedangkan Syiah berpendapat bahwa khilafah ditentukan oleh Allah, melewati penunjukkan para ahlul bait. Pemimpinnya disebut dengan Imam. Secara konseptual, maka khilafah versi Syiah adalah teokrasi.

Menengok kembali sejarah, sepeninggal Nabi, majlis shura saat itu membaiat Abu Bakar namun orang-orang di lingkaran Ali bin Abi Thalib tidak setuju. Ada detail sejarah yang saling berseberangan dari kedua pihak. Masing-masing punya versi sejarahnya sendiri. Kita umat jaman sekarang sukar menyelidiki secara komprehensif peristiwa itu karena terpisah oleh berabad-abad kekacauan penyampaian informasi. Jadi umat Islam telah terbelah dalam mendefinisikan khilafah: Sunni dan Syiah.

Selain itu monarki yang dipelopori oleh clan Muawiyyah, menyebut penguasa dari mereka juga sebagai khalifah. Khalifah di sini berbeda dari versi jaman Nabi dan para khulafaur rasyidin (4 sahabat). Karena khalifah versi Muawiyyah adalah monarki, penunjukkan lewat keturunan. Akan tetapi khalifah versi inilah yang kemudian menjadikan kegemilangan dalam sejarah peradaban...tentu tidak lupa juga darah yang tumpah oleh mereka.

Secara teknis, bentuk negara khilafah versi Sunni untuk saat ini sudah tidak ada. Sedangkan Syiah (setidaknya versi Syiah Imam 12 yang paling populer), masa-masa imam sebagai pemimpin umat yang dipilih Allah sudah lewat dan mereka dalam fase menunggu apa yang disebut sebagai "imam mahdi". Iran sendiri berbentuk republik, sistemnya gabungan antara demokrasi dan teokrasi. Presidennya dipilih rakyat tapi tetap lewat persetujuan pemimpin tertinggi revolusi (maqām mo'azzam rahbari).
Sampe di sini sudah ada yang mulai gontok-gontokan soal sejarah mana yang benar?
Stop! Kalau masih ngeyel coba googling kata khalifah dengan kata "Mia"..

OPINI
Pertama...
Khilafah hanya bisa diterapkan dalam masyarakat yang relatif homogen dalam aliran agama misalnya Arab dan Iran. Bahkan dalam masyarakat yang homogen penerapan khilafah saja bisa kacau, misalnya era sahabat. Bagaimana tidak kacau lha wong orang-orang yang pernah hidup sejaman dengan nabi saja masih bisa sengketa soal hak memimpin umat? Makan korban lagi...Belum lagi mengurusi beda tafsir yang masing-masing mengklaim adalah menjalankan perintah Tuhan.
Demokrasi sekuler berupaya memanage setiap "error in decision", agar selalu bisa ditimpakan pada manusianya. Jadi kalo ada yang salah dalam menjalankan sistem, yang dimintai pertanggungjawaban adalah manusianya. Dan dengan demikian tidak bisa seenaknya bawa nama Tuhan.
Lagian soal bawa nama Tuhan...mbok ya sejak mbah moyangnya Ibnu Muljam jualan kapak perimbas manusia sudah punya tabiat tidak satu suara meski dalam golongannya sendiri.

Kedua..
Mudharat dan manfaat. Seberapa menjamin kemakmuran akan jalan di bawah khilafah? Bagaimana menangani konflik? bagaimana menangani minoritas...dalam masyarakat heterogen?
Negara maju dan beradab dalam standar sekuler sudah banyak contohnya. Sedang khilafah hanya mengajukan contoh dari sejarah masa lalu yang sebenarnya itu juga bukan khilafah original. Ottoman Turki?...owww come on, Guys....Jaman dulu struktur masyarakatnya juga masih belum seberkembang sekarang. Sebagaimana kejayaan sekularisme berutang pada pemikir Islam yang memberi arah pada Rennaissance, kejayaan peradaban Islam pun berhutang pada warisan filsafat Yunani.

Ketiga...
Wacana khilafah, masih layak untuk digelar tapi dalam koridor akademik. Dalam wadah diskusi berbagai arah. Bukan kampanye underground yang mau ngganti dasar negara. Sama belaka dengan komunisme. masih bisa digelar dalam wacana akademik, dibedah dalam ruang-ruang kampus, forum diskusi filsafat. Tapi kalau bergerak secara underground membawa misi komunisme ke negara ya berarti itu makar.

Saya sadar. Semua tak bisa semudah itu. Sementara khilafah hanyalah utopia, komunis cuma berupa fosil sejarah. Dan kita memang paling takut sama simbol. Bendera historis Nabi yang di-hack sama IS pun sama menakutkannya dengan palu-arit.

Namun... simbol selain cuma representasi ide, juga bisa disalahgunakan sebagai kampanye pergerakan. Strategi yang sama juga dipakai dalam marketing. Jangankan Nike, Apple, Chanel...Betmen aja juga pake simbol buat nakut-nakutin lawan hehehe
Jadi.. NKRI (ya NKRI Bhineka Tunggal Ika, bukan NKRI syariah)...harga hidup!
(udah banyak yang mati demi NKRI soalnya)

Kamis, 20 April 2017

Tiga Ramalan

Kepadamu puan,

Aku ingin meramalkan tiga hal hari ini.

Pertama, aku meramalkan bahwa surat ini tidak akan panjang, tentu saja alasannya dapat kamu baca pada kalimat pertama surat ini.

Kedua, aku meramalkan bahwa kamu tidak yakin bahwa 'puan' yang kutuliskan dalam surat ini adalah dirimu sendiri dan masih menduga - duga bahwa itu adalah orang lain.

Tidak, tentu ini untukmu, untuk waktu yang telah kau luangkan kepadaku
saat kau merasa lelah dengan rutinitas 'tujuh menuju empat' selama lima hari.
Rutinitas menjalani perjalanan yang melelahkan ke tempat kerja.

Tapi tunggu sebentar, apakah hidup itu rutinitas?

Aku benar - benar tidak tahu, tapi ketika kita mengalami kebosanan dalam menjalani hidup, maka saat itu kita sadar bahwa hidup kita terjebak dalam rutinitas.

Lalu bagaimana dengan kita?

Apakah kita adalah rutinitas?

Perihal ini, aku ingin kamu menjawabnya lewat pesan pribadi saja kepadaku,
Kutunggu jawabannya hingga akhir minggu ini, 7 September 2013.

Ketiga, aku meramalkan besok akan cerah.

Tahukah bahwa aku sebenarnya tidak begitu suka dengan rutinitas, itu melelahkan bagiku, sebab doa agar kamu bahagia selalu kuucapkan setiap hari.
Bukan rutinitas, hanya saja hal tersebut seakan menyatu dalam nafas.

*Puan : wanita (dari kata perempuan)

Rabu, 18 Januari 2017

Aku Hanya Mampu Mencintai Sebatas Itu

Aku hanya mampu memandangmu dari kejauhan, setiap inci bayangan diri mu terpatri dalam memori pikirku. Kau mungkin tak terjangkau pandanganku, tapi tak pernah jauh dari mata hatiku.

Kau tahu, aku suka hujan, tetesannya di kaca jendela, dingin berembun, dengannya aku bisa melukis senyum dan namamu. Pernah kau coba hitung rintikan hujan? Saat hujan deras, tetesan itu tak berhingga jumlahnya.

Ah, bukan, aku bukan ingin sombong mengaku bahwa sebanyak itu cintaku padamu. Cintaku padamu hanya seujung kuku, yang akan terus tumbuh meski
telah dipotong berkali-kali.

Cintaku hanya satu detik, yang kurasa terus berkembang di setiap detik selanjutnya. Cintaku hanya setetes hujan, yang menyejukkan kegersangan taman hati. Cintaku hanya setitik cahaya, yang berpendar hidupkan lentera kita. Aku tak sanggup menjanjikan selamanya, aku hanya sanggup menjanjikan satu kalimat, 'aku mencintaimu hari ini'.

Lalu, bagaimana dengan esok, lusa, seminggu, sebulan, setahun, sewindu, seabad? Aku tak berjanji tentang rentang waktu, tetapi yang kumengerti, setiap harinya selalu ada cinta untukmu. Setiap harinya cintaku tak berkurang satu centi pun, justru kurasakan semakin bertambah.

Aku tak berani mencintaimu semegah langit atau pun seluas bumi, aku hanya mampu mencintaimu sedalam kepingan hati.

Hati? Iya, bongkahan kecil dalam ragaku, hanya sekeping, tempat bernaung cintaku untukmu. Hanya sesederhana itu aku mencintaimu, tanpa hitungan dan tanpa berpikir untuk terhenti. Biar terus berkembang atau bahkan menyusut ditelan sang waktu.

Aku hanya mampu mencintai sebatas itu, tak lebih, tak juga kurang.

Minggu, 15 Januari 2017

Untukmu

Aku menulis lagi. Tulisanku ini masih tentangmu. Hanya saja kali ini aku harap kau membacanya. Karena tulisan ini memang untukmu. Untukmu yang sempat ingin kuperjuangkan.

Perihal rasa memang sulit untuk dijelaskan. Bahkan lebih rumit dari soal ujian lisan metalografi semester kemarin. Tapi aku tetap menulis ini. Karena aku ingin kau paham, kalau di sini masih ada yang memendam rasa padamu. Membiarkan perasaannya terkubur tidak terlalu dalam, hingga tampak seperti gundukan tanah yang menyembunyikan sesuatu.

Bukan aku tak mau menggali gundukan itu lalu menunjukan isinya padamu. Aku hanya merasa kalau aku bukan orang yang pandai dalam hal itu. Aku tak pandai dalam mengungkap rasa. Iya, aku memang bukan orang yang pandai.

Kalau kau membaca tulisan ini lalu merasa ini semua tentangmu, bungkam saja lah. Biarkan ini tetap jadi urusanku sendiri. Akan rumit jika banyak orang yang tau tanpa paham apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Dan untukmu, aku ingin berterimakasih. Terimakasih telah hadir. Menjadi warna, membawa nada, memupuk rasa walau hanya sementara. Terimakasih banyak.

P.S : tulisan ini pas jika diiringi lagu Jose Mari Chan yang judulnya Can't We Start Over Again. Carilah di Youtube.
��