Minggu, 20 November 2016

Soekarno: Disayang Gereja Dicintai Muslim


Bulan Mei, Vatikan sedang disiram sengatan matahari terik sepanjang hari di musim panas tahun 1959. Cuaca cukup menyengat untuk ukuran kota Vatikan yang mungil itu.

Suatu pagi pada Kamis Wage, 14 Mei 1959, Vatikan kedatangan seorang tamu dari jauh.
Dia datang disambut dengan upacara megah oleh para prajurit berseragam kebesaran ala Eropa abad pertengahan. Bahkan beberapa prajurit senior berpakaian besi seperti serdadu Romawi, karena ini menyambut sebuah kunjungan resmi seorang presiden negara besar ke negara terkecil di dunia.

Bagai seorang pangeran dari “somewhere from the East” dengan gaya berpakaian khas berpeci hitam yang menjadi cirinya. Dia datang dengan rombongan besar. Mereka tiba dengan 9 mobil yang mengantar mereka untuk beraudiensi dengan Paus Johannes XXIII, pemimpin spiritual umat Katolik sejagat.

Tepat pukul 07.50, sang tamu dengan berpakaian jas lengkap putih-putih, datang sambil mengempit tongkat kesayangannya di lengan atas tangan kiri. Di lehernya tergantung medali ukiran beruntai kuning emas. Dia tampak seperti sudah biasa datang Ruang Clementine atau Clement VIII Pax V, sebuah ruangan kecil dalam kompleks negara seluas lapangan golf itu, tempat pemimpin Gereja Katolik itu menerima tamu-tamu resminya. Ini kunjungannya kedua ke tempat pusat rohani umat Katolik sebumi setelah 3 tahun.
Tamu itu seorang pemimpin negara berpenduduk umat Islam terbesar sejagat, menghadap kepada pemimpin umat Katolik -- juga sejagat. Presiden Soekarno bertamu kepada Paus Johannes XXIII. Sang pemimpin umat Katolik yang bernama Kardinal Angelo Giuseppe Roncalli itu, senang mendapat tamu jauh dari sebuah negeri berpenduduk mayoritas muslim, meski ia belum setahun menduduki Tahta Suci di Vatikan. Ia memberi penghargaan tinggi kepada tamunya dan juga anggota rombongannya, berupa kotak kecil yang diterimakan secara bergiliran satu per satu.
Mengapa Soekarno sering berkunjung ke pusat agama Katolik sedunia itu?

Pertemuannya dengan Johannes XXIII adalah yang kedua baginya menemui seorang paus. Sebelumnya, pada Rabu 13 Juni 1956, dalam rangka tur keliling dunia, dia pertama kalinya menginjakkan kaki di Vatikan dan menemui Paus Pius XII. Sri Paus juga bangga didatangi seorang pemimpin sebuah negeri dengan penduduk muslim terbesar dari Asia. Sang tamu pun mendapat pujian serta kehormatan atas kedatangannya itu.

Hanya 10 tahun baru memimpin bangsa baru, Soekarno ingin menunjukkan bahwa takdirnya memimpin bangsa sangat majemuk ia jalankan dengan baik. Dia bukan datang sebagai seorang raja atau pangeran yang memimpin negeri homogen dalam budaya dan agama, seperti raja, sultan atau emir di Timur Tengah, atau pun di Semenanjung Melayu. Ia datang sebagai manusia berkebudayaan Indonesia yang utuh, yang berdiri di atas semua pihak, golongan, agama, budaya dan kepentingan.
“Kami menyambut dengan hangat kedatangan Yang Mulia, dengan mengingatkan kembali kedatangan Yang Mulia menemui pendahulu kami, Paus Pius XII dan Paus Johannes XXIII”, sambutan Paus Paulus VI ketika menerima kedatangan ketiga kalinya Presiden Soekarno ke Vatikan (dan juga menjadi yang terakhir), pada Senin, 12 Oktober 1964.

Soekarno dipuji amat sangat oleh Vatikan, karena menunjukkan sikap kemanusiannya yang tinggi, seperti yang dikatakan Paus Paulus VI ketika menyambutnya. Peristiwa ini tidak pernah terjadi terhadap pemimpin dari negeri muslim mana pun di dunia. Ini yang selalu membanggakan seorang tokoh budayawan, rohaniawan Katolik yang juga arsitek, Romo Mangunwijaya. Ia selalu memuja penghargaan yang diberikan Vatikan kepada Soekarno sebagai pemimpin negeri muslim, pertama dalam 2.000 tahun sejarah Gereja Roma Katolik.

“Aku orang Islam yang hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali yang tertinggi dari Vatikan”, katanya dalam otobiografi yang ditulis Cindy Adams — "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia". Perhargaan ini membuat kagum Presiden Irlandia Eamon de Valera, yang negerinya punya 88% umat Katolik. “Saya hanya punya satu penghargaan”, katanya saat berjumpa dengan Soekarno.

Api bukan Abu
Bagi Soekarno, umat Katolik dan kristiani umumnya, bukan hal yang asing baginya. Jauh sebelum dia menjadi pemimpin, persinggungan dengan orang-orang Katolik sudah terjadi. Ketika dipenjara di Sukamiskin, Bandung, dia banyak membaca tulisan-tulisan van Lith, seorang tokoh Katolik yang meletakkan dasar ajaran Katolik di tanah Jawa. van Lith punya dua murid kesayangan, yang juga menjadi lebih dari sahabat bagi Soekarno, yaitu Mgr. Soegijapranata dan IJ Kasimo.

Ketika dia dibuang ke Ende, Flores, Soekarno banyak memuji cara kerja dan sistem manajemen orang-orang Katolik di pulau itu, yang memang menjadi mayoritas. Ia kadang mengkritik keras cara berpikir orang-orang Islam masa itu, yang terlalu mengurusi asesoris daripada esensi ajaran Islam, yang makin menjauhkan umat Islam dari modernitas. “Ambil apinya dari Islam, bukan abunya”, katanya mengkritik.

Soekarno saat itu menggagumi buku ‘Spirit of Islam’ karya Syed Amir dari London, yang isinya ingin membangunkan umat Islam dari tidur panjang. Dari pembuangan di Ende, Soekarno juga melakukan korespondensi surat-surat Islamnya dengan para tokoh-tokoh Islam di Jawa dan Sumatra dan juga menulis artikel surat kabar seperti "Pandji Islam" dsb.

Pada zaman revolusi kemerdekaan Indonesia (1945—1949), keluarga Soekarno bersahabat baik dengan Soegijapranata, murid van Lith, tokoh yang dikaguminya. Sewaktu Belanda menyerang ibukota negara Jogjakarta, 18 Desember 1948, istrinya Fatmawati yang mempunyai bayi berumur setahun, Megawati, disembunyikan oleh Soegijapranata di rumahnya di tepi barat Kali Code, dari kejaran militer Belanda. Sedangkan Soekarno diibuang ke Berastagi — Tanah Karo, Prapat — Simalungun kemudian Pulau Bangka.

Ketika Soegijapranata wafat, Soekarno menjadikannya pahlawan nasional dan mengirim pesawat khusus untuk menjemput jenazahnya di Belanda. Fatmawati meratapi kepergian paderi Katolik pribumi pertama itu dengan tangisan tiada henti.

Soekarno sangat disayangi oleh Vatikan, beliau juga dinobatkan sebagai pahlawan Islam oleh komunitas muslim dunia. Menerima 26 gelar Dr. (HC), dua di antaranya dari Universitas Al-Azhar di Kairo dan Universitas Istanbul di Turki bidang Filsafat Islam; adalah pengakuan dunia keilmuan atas pemikiran Soekarno. Organisasi internasional, seperti Konferensi Islam Asia Afrika juga memberikan gelar Amirulmukminin. (pemimpin umat Islam). Anehnya, julukan itu bukan untuk raja-raja Islam di Timur Tengah yang sangat kental dengan keislamannya.

Paus Johannes Paulus II mengatakan di depan Soeharto: “Falsafah Pancasila telah menjadi bintang penuntun bagi peradaban tinggi negeri ini yang menyatakan setiap rakyatnya berke-Tuhanan, tetapi berjiwakan persatuan nasional yang menghormati perbedaan atas masyarakat majemuk Indonesia.”
(Ketika Paus Yohanes Paulus berkunjung ke Indonesia, pihak pemerintah dan KWI meminta bintang yang sama utk diberikan kepada Presiden Soeharto, tetapi Paus menolak dan mulai saat itu Vatikan tidak lagi memberikan bintang tahta suci). Soekarno adalah orang non-kristen/katolik pertama sekaligus yang terakhir menerima bintang penghargaan teringgi dari Vatican tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar